Pengertian Wakalah: Fundamental, Pilar, Syarat, Bentuk, Hak

Pengertian-Wakalah-Fundamental-Pilar-Syarat-Bentuk-Hak

Arti dari wakalah
Buka baca cepat

Wakalah secara etimologis berarti pemeliharaan al-hifdh, penyerahan al-Tafwidh, pelimpahan atau amanah. Sedangkan secara terminologi wakalah memberikan kewenangan kepada pihak lain atas apa yang harus dilakukannya, dalam syar’i ia (kewenangan) menjadi penerus pemberi untuk jangka waktu tertentu. Para ulama memberikan berbagai definisi wakalah diantaranya: Para ulama hanafi berpendapat bahwa wakalah adalah orang yang merasuki diri orang lain dalam tasharruf (manajemen). Sedangkan ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah bahwa Wakalah adalah orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain untuk dilakukan selama hidupnya. Hal itu ada hubungannya dengan Wakalah sebagaimana dihimpun dalam Hukum Ekonomi Syariah (KHES) di Buku II. Bab I, Pasal 20 ayat 19 bahwa Wakalah memberikan kewenangan kepada pihak lain untuk melakukan sesuatu.

Pengertian-Wakalah-Fundamental-Pilar-Syarat-Bentuk-Hak

Menurut KUHPer tentang Wakalah dalam Buku III Bab VIII Pasal 1792 ayat di atas disebutkan bahwa Pemberi adalah perjanjian yang meliputi pemberian kekuasaan kepada orang lain yang diberi kuasa untuk melakukan sesuatu atas nama orang tersebut. yang memberi kekuatan. Dalam wakalah, pemilik usaha (muwakil) secara legal dapat melakukan pekerjaannya sendiri. Tetapi karena satu atau lain hal, dia menyerahkannya kepada orang lain yang dianggap mampu menggantikannya. Oleh karena itu, jika orang (agen) adalah orang yang tidak mampu menjalankan usahanya seperti orang gila atau anak kecil, maka tidak dibolehkan mendelegasikan kepada orang lain. Contoh wakalah adalah seperti terdakwa yang melimpahkan suatu masalah kepada pengacaranya.
Hukum Dasar Wakalah

Islam membutuhkan wakalah karena orang membutuhkannya. Manusia tidak mampu menangani semua urusannya secara pribadi dan membutuhkan seseorang untuk menggantikannya, untuk bertindak sebagai wakilnya. Dan musyawarah ulama sepakat bahwa wakalah diperbolehkan karena wakalah dipandang sebagai bentuk gotong royong yang dilandasi kebaikan dan ketakwaan, yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Firman Tuhan QS. Al-Maidah ayat 2:

Dan meletakkannya di atas mezbah dan di atas mezbah, dan menaruhnya di atas mezbah.

Baca lebih lanjut: Aurora Is

“Dan saling membantu untuk melakukan hal-hal yang baik dan saleh, dan tidak saling membantu untuk melakukan dosa dan permusuhan dan takut kepada Allah. Sungguh, siksa Allah itu menyakitkan.

Dalam Hadits Sulaiman ibn Yasar, wakalah ini tidak hanya diberikan oleh Nabi, tetapi Nabi sendiri melakukannya sekali. Bahwa Nabi pernah melimpahkan kepada Abu Rafi ‘dan seorang Anshar untuk mewakilinya dalam pernikahan dengan Maimunah (diriwayatkan oleh Malik), dan Nabi juga dalam pembayaran hutangnya yang diwakili dalam administrasi untanya (HR. Bukhari dan Abu Hurairah) ). Keberadaan wakalah juga ditemukan dalam KHES Pasal 20 Nomor 19 dan KUHPerdata Pasal 1792.
Pilar dan Kondisi Wakalah

Pilar Wakalah

Pilar wakalah dalam KHES pasal 452 adalah:

Representative (orang yang mewakili)
Muwakkil (orang yang mendelegasikan)
Muakkal fih (sesuatu yang diwakili)
Shighat (lafadz ijab dan qabul)

Syarat yang menjadi wakalah adalah sebagai berikut:

Perwakilan (orang yang mewakili) dalam ketentuan pasal 457 KHES bahwa orang yang menjadi agen harus dapat bertindak secara sah, yaitu dalam hal ini orang yang tidak berwenang melakukan perbuatan hukum tidak berwenang menunjuk kuasa sebagai kuasa. anak yang masih dalam pengampunan, tetapi jika anak tersebut masih dalam pengampunan, ia dapat ditunjuk sebagai penerima asli, yang diberikan kepada penerima manfaat dan tidak merugikan, tetapi dengan persetujuan dari walinya. Pasal 1798 KUH menjelaskan bahwa perempuan dan anak di bawah umur dapat diangkat menjadi surat kuasa, tetapi surat kuasa tidak memiliki kuasa untuk menggugat anak di bawah umur dan bahkan perempuan yang sudah menikah jika tidak memiliki surat kuasa. bantuan suaminya. Ia tidak memiliki kewenangan untuk menuntut hukum.

Muwakkil (orang yang mewakili) dalam ketentuan Pasal 458 bahwa orang yang menerima kekuasaan harus waras bukan berarti gila, waras dan bukan idiot, dan dia berbicara perbuatan hukum meskipun tidak harus dewasa tetapi dengan izin wali dan tidak berwenang atau berkewajiban dalam transaksi, oleh karena itu dalam kepemilikan pemberi.

Muakkal fih

(sesuatu yang diwakili) dalam ketentuan Pasal 459 sesuatu yang diwakili dapat berupa orang dan / atau badan usaha yang berwenang menunjuk pihak selain agennya untuk melakukan suatu perbuatan yang dapat dilakukannya sendiri. kewajibannya, dan / atau diberikan hak sehubungan dengan transaksi yang merupakan hak dan kewajibannya

 

LIHAT JUGA:

 

https://memphisthemusical.com/
https://officialjimbreuer.com/
https://timeisillmatic.com/
https://votizen.com/
https://boutiquevestibule.com/
https://ariatemplates.com/
https://worldbeforeher.com/
https://thinknext.net/
https://bootb.com/
https://excite.co.id/